Dilema
Posted by Sebutir Permata Yang Berharga | Permalink | 0 comments
Labels: Emosi
Doa Seorang Sahabat
Namun, mereka berdua yakin bahwa tidak ada yang dapat dilakukan kecuali berdoa. Untuk mengetahui doa siapakah yang paling dikabulkan, mereka sepakat untuk membahagikan pulau kecil itu menjadi dua wilayah. Dan mereka tinggal sendiri sendiri berseberangan di dua sisi pulau tersebut.
“Hai, mengapa engkau meninggalkan rakanmu yang ada di sisi lain pulau ini?”
“Barkahku hanyalah milikku sendiri, kerana hanya doa akulah yang dikabulkan,” jawab lelaki A ini. “Doa lelaki temanku itu tak satupun dikabulkan. Maka, ia tak layak mendapatkan apa-apa.”
"Kau salah !” suara itu membentak tinggi. “Tahukah kau bahawa rakanmu itu hanya memiliki satu doa. Dan, semua doanya terkabulkan. Bila tidak, maka kau takkan mendapatkan apa-apa.”
“Katakan padaku” tanya lelaki A itu. “Doa macam apa yang ia panjatkan sehingga saya harus merasa berhutang atas semua ini padanya?”
“Ia berdoa agar semua doamu dikabulkan!”
*Saya tertarik dengan kisah ini. Mungkin fiction tapi kita boleh ambil menjadi iktibar dan ingatan untukku dan kita semua.
Read More......Posted by Sebutir Permata Yang Berharga | Permalink | 3 comments
Labels: Nasihat
Ikhlaskah Hatiku??


Posted by Sebutir Permata Yang Berharga | Permalink | 0 comments
Etika Pemakaian Siswi USIM
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
ETIKA PEMAKAIAN SISWI
Perhatian kepada semua mahasiswi USIM, adalah disarankan agar anda sentiasa mematuhi etika pemakaian yang telah ditetapkan mengikut Etika Pemakaian Mahasiswa/I USIM dan juga menjaga adab-adab pemakaian sebagai seorang Muslimah.
Ini kerana terdapat sebilangan pelajar yang masih gagal memahami dan mematuhi etika pemakaian ini seperti:
- Memakai pakaian yang ketat (body shirt) di kampus, Kolej kediaman & luar kampus.
- Memakai tudung selempang (yang tidak menutupi bahagian dada)
- Memakai baju yang berlengan tiga suku @ menyinsing lengan baju yang panjang (yang menampakkan sebahagian lengan)
- Memakai kain belah (yang menampakkan betis)
- Memakai pakaian yang jarang.
- Tidak memakai anak tudung/scarf kepala sehingga menampakkan rambut dan tengkuk.
Adalah diharapkan agar kita dapat memahami dan mematuhi etika pemakaian sebagai seorang Muslimah dan juga Etika Pemakaian USIM yang telah ditetapkan.
Bertindaklah dengan pertimbangan iman&akal agar selamat di dunia & akhirat.
Sekian, wassalam...
TRY TO BE A GOOD MUSLIMAH…INSYAALLAH
BARAKALLHU ALAIK…
Posted by Sebutir Permata Yang Berharga | Permalink | 3 comments
Sekilas Majlis Konvokesyen UDM kali pertama
Posted by Sebutir Permata Yang Berharga | Permalink | 5 comments
Labels: Emosi
Persahabatan
Bukan kenalan di zaman ini
Berpunca dari hati yang rosak
Kerana dunia memautnya
Kebaikan kita disoroknya
Bahkan didengkinya pula
Kejahatan dicanang merata
Salah yang sikit dibesarkan
Yang besar apatah lagi
Alangkah sepi dunia ini
Walaupun hidup di tengah ramai
Kerana kawan tiada lagi
Yang ada hanyalah di jalanan
Kerana kawan tiada lagi
Yang ada hanyalah di jalanan
“Sebaik baik sahabat disisi Allah ialah orang yang terbaik terhadap temannya dan sebaik baik jiran disisi Allah ialah orang yang terbaik terhadap jirannya” (H.R al-Hakim)
- Jika engkau rapatkan persahabatan dengannya, dia akan membalas balik persahabatan kamu;
Jika engkau memerlukan pertolongan daripadanya, dia akan membantu kamu;
Jika engkau menghulurkan sesuatu kebaikan kepadanya, dia akan menerimanya dengan baik;
- Jika dia mendapat sesuatu kebajikan (bantuan) daripada kamu, dia akan menghargai atau menyebut kebaikan kamu;
- Jika dia melihat sesuatu yang tidak baik daripada kamu, dia akan menutupnya;
- Jika engkau meminta bantuan daripadanya, dia akan mengusahakannya;
- Jika engkau berdiam diri (kerana malu hendak meminta), dia akan menayakan kesusahan kamu;
- Jika datang sesuatu bencana menimpa dirimu, dia akan meringankan kesusahan kamu;
- Jika engkau berkata kepadanya, nescaya dia akan membenarkan kamu;
- Jika engkau merancangkan sesuatu, nescaya dia akan membantu kamu;
- Jika kamu berdua berselisih faham, nescaya dia lebih senang mengalah untuk menjaga kepentingan persahabatan.
- Dia membantumu menunaikan tanggungjawab serta melarang melakukan perkara buruk dan maksiat
- Dia mendorongmu mencapai kejayaan didunia dan akhirat.
Orang yang tidak layak digelar sahabat:
- Sahabat yang tamak: ia sangat tamak, ia hanya memberi sedikit dan meminta yang banyak, dan ia hanya mementingkan diri sendiri.
- Sahabat hipokrit: ia menyatakan bersahabat berkenaan dengan hal-hal lampau, atau hal-hal mendatang; ia berusaha mendapatkan simpati dengan kata-kata kosong; dan jika ada kesempatan membantu, ia menyatakan tidak sanggup.
- Sahabat pengampu: Dia setuju dengan semua yang kamu lakukan tidak kira betul atau salah, yang parahnya dia setuju dengan hal yang tidak berani untuk menjelaskan kebenaran, di hadapanmu ia memuji dirimu, dan di belakangmu ia merendahkan dirimu.
- Sahabat pemboros dan suka hiburan: ia menjadi kawanmu jika engkau suka pesta, suka berkeliaran dan ‘melepak’ pada waktu yang tidak sepatutnya, suka ke tempat-tempat hiburan dan pertunjukan.
Namun tidak dapatku nafikan, orang disekelilingku layak untuk bergelar sahabat. Hanya mungkin diri yang lemah ini melakukan sesuatu yang tidak layak dilakukan oleh seorang sahabat. Semoga semua yang disekelilingku dirahmati Allah s.w.t dan dapat memberikan kemaafan yang ikhlas dek kerana diri ini yang lemah dan hina. Untuk mendapatkan sahabat yang sejati perlu bermula dari keikhlasan dan kejujuran diriku sendiri.
Salam persahabatan buat semua.
Read More......Posted by Sebutir Permata Yang Berharga | Permalink | 4 comments
Labels: Emosi
Bicara Wanita 2
SETIAP HARI JUMAAT
Minggu ini
Tarikh : 17 Julai 2009
Masa : 12.00 tengah hari
Tempat : Dewan Kuliah Pusat 3
Tajuk : Bersuci
Penceramah : Ustazah Nabilah Yusuf @ Abdul Rahman
SEMUA DIJEMPUT HADIR UNTUK MEMERIAHKAN MAJLIS ILMU
Cara Bersangka Baik
Oleh : Syeikh Abdul kadir Al Jailani
Jika engkau bertemu dengan seseorang, maka yakinilah bahawa dia lebih daik darimu.
Ucapkan dalam hatimu :"Mungkin kedudukannya di sisi Allah jauh lebih baik dan lebih tinggi dariku".
Jika bertemu anak kecil,
maka ucapkanlah (dalam hatimu) :"Anak ini belum bermaksiat kepada Allah, sedangkan diriku telah banyak bermaksiat kepadaNya. Tentu anak ini jauh lebih baik dariku".
Jika bertemu orang tua,
maka ucapkanlah (dalam hatimu):"Dia telah beribadah kepada Allah jauh lebih lama dariku, tentu dia lebih baik dariku."
Jika bertemu dengan seorang yang berilmu,
maka ucapkanlah (dalam hatimu):"Orang ini memperoleh kurnia yang tidak akan ku perolehi, mencapai kedudukan yang tidak akan pernah ku capai, mengetahui apa yang tidak ku ketahui dan dia mengamalkan ilmunya, tentu dia lebih baik dariku."
Jika bertemu dengan seorang yang bodoh,
maka katakanlah (dalam hatimu) :"Orang ini bermaksiat kepada Allah kerana dia bodoh (tidak tahu), sedangkan aku bermaksiat kepadaNya padahal aku mengetahui akibatnya. Dan aku tidak tahu bagaimana akhir umurku dan umurnya kelak. Dia tentu lebih baik dariku."
Jika bertemu dengan orang kafir,
maka katakanlah (dalamhatimu) :"Aku tidak tahu bagaimana keadaannya kelak, mungkin di akhir usianya dia memeluk Islam dan beramal soleh. Dan mungkin boleh jadi di akhir usia diriku kufur dan berbuat buruk.
Posted by Sebutir Permata Yang Berharga | Permalink | 0 comments
Labels: Nasihat
Al-Wala' v/s Al-Bara'
Al Wala’ dan Al Bara’ Adalah Sebuah Keharusan !
Al Ustadz Abu Hamzah Yusuf Al Atsari
Termasuk ke dalam pokok aqidah al Islamiyyah, bahwa seorang muslim wajib berpegang teguh dengan aqidah ini, memberikan wala’ ( loyalitas kecintaan kepada ahlinya) dan memberikan sikap bara’ (antipati kebencian terhadap musuh-musuhnya). Maka wajib mencintai ahli tauhid dan ikhlas dan menolong mereka serta membenci ahli syirik dan memusuhinya. Yang demikian itu adalah milahnya Ibrohim dan orang-orang yang bersamanya di mana kita diperintah untuk mengikutinya. Allah berfirman (yang artinya), "Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrohim dan orang-orang yang bersama dengan dia, ketika mereka berkata kepada kaum mereka: Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari kekafiranmu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja." (QS Al Mumtahanah: 4). Ia juga sebagai diennya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Allah berfirman (yang artinya), "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpinmu, sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka." (QS Al Maidah: 51).
Dan Allah juga berfirman (yang artinya), "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuhku dan musuhmu menjadi teman-teman setia." (QS Al Mumtahanah: 1).
Bahkan Allah telah mengaharamkan kaum muslimin berloyalitas kepada orang-orang kafir walaupun mereka kerabat dekatnya. Allah berfirman (yang artinya), "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudaramu pemimpin-pemimpinmu. Jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka pemimpin-pemimpinmu, maka mereka itulah orang-orang yang zholim." (QS At Taubah: 23).
Allah berfirman (yang artinya), "Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan rasul-Nya sekalipun orang-orang itu bapak-bapaknya atau anak-anaknya atau saudara-saudaranya ataupun keluarganya." (QS Al Mujaadilah: 22).
Sungguh telah banyak dari kaum muslimin yang bodoh akan prinsip yang agung ini, bahkan sebagian yang menisbatkan dirinya pada ilmu dan da’wah sekalipun! Dengan alasan kemaslahatan agama dan persamaan kemanusiaan serta segudang alasan-alasan lainnya mulai terjerumus untuk menyerukan persamaan dan penyatuan agama, innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Perhatikanlah beberapa bahaya yang akan menimpa kaum muslimin dari seruan syaithon ini:
- Menghalalkan persaudaraan dengan Yahudi dan Nashrani.
- Menahan tulisan-tulisannya kaum muslimin dan lisan-lisannya dari mengkafirkan Yahudi dan Nashrani dan yang lainnya yang telah dikafirkan Allah dan Rasul-Nya.
- Menggugurkan hukum-hukum Islam yang diwajibkan atas kaum muslimin di hadapan kaum kafirin dan yang lainnya yang tidak beriman dengan Islam.
- Meninggalkan jihad yang ia sebagai puncak ketinggian Islam.
- Menghancurkan akidah Islam dan pondasinya yakni al wala’ dan al bara’ serta masih banyak lagi yang lainnya.
Oleh karena itu dengan bahayanya seruan ini bagi Islam dan muslimin, maka Lembaga Fatwa dari kalangan para ulama yang diketuai ketika itu oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah mengeluarkan fatwa bernomor 19402 pada tanggal 25/1/1418 H. Yang isinya kurang lebih,
"Sesungguhnya seruan kepada penyatuan agama jika muncul dari seorang muslim maka berarti ia telah murtad dengan kemurtadan yang jelas karena telah melabrak pokok-pokok aqidah, ridlo dengan kekufuran terhadap Allah dan menggugurkan kebenaran Al Quran serta menolak bahwa Al Quran telah menghapus seluruh syariat dan ajaran sebelumnya, berdasarkan atas hal itu maka ia adalah fikroh (pemikiran) tertolak secara syariat, diharamkan secara pasti dengan seluruh dalil-dalil baik Al Quran, Sunnah, maupun ijma’."
Seperti halnya Allah telah mengharamkan memberikan loyalitas kepada orang-orang kafir, Allah juga mewajibkan memberikan loyalitas kepada orang-orang mu’min. Allah berfirman (yang artinya), "Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman yang mendirikan sholat dan menunaikan zakat seraya mereka tunduk kepada Allah. Dan barangsiapa mengambil Allah, rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut agama Allah itulah yang pasti menang." (QS Al Maidah: 55-56).
"Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir tetapi berkasih sayang sesama mereka." (QS Al Fath: 29).
"Sesunggunya orang-orang mu’min adalah bersaudara." (QS Al Hujuraat: 10).
Maka orang-orang yang beriman adalah bersaudara dalam agama dan aqidah walaupun berjauhan nasab, tempat, dan zaman. Allah berfirman (yang artinya), "Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang." (QS Al Hasyr: 10).
Wal hamdulillahi robbil ‘alamin.
Judul asli: Al Wala dan Al Bara’ Sebuah Keharusan
Sumber: Buletin Dakwah Al Wala’ Wal Bara’ BandungEdisi ke-12 Tahun ke-1 / 07 Maret 2003 M / 04 Muharrom 1424 H
Posted by Sebutir Permata Yang Berharga | Permalink | 0 comments
Tazkirah Jumaat: Manusia tidak lekang daripada ujian
Ustaz Zainudin Hashim Fri | Jul 03, 09 | 11:16:30 am MYT | |
Dalam al-Quran, ada dijelaskan beberapa bentuk ujian yang mesti dilalui oleh setiap individu Muslim, sama ada ia berbentuk ujian kebuluran, ketakutan, ujian dengan sedikit sumber pemakanan, harta benda, ujian dalam kehidupan adalah untuk Allah ketahui siapakah di kalangan hamba-hamba-Nya yang paling bertakwa kepada-Nya. Kesemua itu adalah bertujuan supaya orang Islam semakin matang dalam menempuh perjuangan hidup. Allah SWT tidak memberi mereka meraba-raba dengan ujian yang didatangkan kepada mereka, akan tetapi Dia mengajar mereka untuk berlindung dan bermohon kepada-Nya melalui program ibadat solat dan sabar dalam menghadapi ujian. Firman Allah SWT menerusi ayat 45 surah al-Baqarah, bermaksud: "Jadikanlah sifat sabar dan solat sebagai penolong kamu. Dan sesungguhnya yang demikian itu amat berat, melainkan kepada orang-orang yang khusyuk." Dalam ayat 153 pula, Allah menjelaskan maksudnya: "Wahai orang-orang yang beriman, jadikanlah sifat sabar dan solat sebagai penolong kamu, sesungguhnya Allah beserta dengan orang-orang yang sabar." Kedua-dua ayat tersebut di atas, memberi penjelasan bahawa Allah SWT telah meletakkan syarat terpenting dalam menghadapi ujian-Nya ialah dengan berbanyak sabar dan melakukan solat, sama ada yang wajib atau sunat, kerana dengannya kita boleh bermohon kepada-Nya untuk menyelamatkan kita daripada sebarang bentuk marabahaya yang boleh menimpa kita pada bila-bila masa. Sifat sabar itu lahir apabila manusia ditimpa ujian getir daripada Allah SWT, ia bertujuan untuk memperkasa diri Muslim untuk terus berhubungan dengan Allah sebagai tanda penyerahan diri mereka hanya kepada Allah, dan sabar itu pula boleh dikategorikan sebagai berikut; 1. Sabar dalam melaksanakan segenap perintah Allah dengan penuh rasa khusyuk dan pasrah kepada-Nya. 2. Sabar dalam meninggalkan segala larangan dan tegahan-Nya dengan penuh rasa tanggungjawab. 3. Sabar dalam menempuh segala ujian, kerana ia mengandungi kebaikan untuk semua. 4. Sabar ketika berhadapan dengan maksiat. 5. Sabar terhadap ketentuan dan musibah. Apabila dilihat kepada sirah para anbiya tidak seorang pun daripada mereka yang tidak diuji oleh Allah, namun ujian yang ditimpakan ke atas mereka tidaklah sama antara seorang rasul dengan yang lain, justeru baginda ada menegaskan dalam hadisnya yang bermaksud; "Para anbiya adalah golongan yang paling dahsyat ditimpakan ujian oleh Allah, kemudian golongan yang serupa dengan mereka (para ulama)." Sehubungan itu, Almarhum Ustaz Mustafa Masyhur (Mursyidul Am kelima Ikhwan Muslimun menerusi tulisannya 'Bekalan kepada Para Da'ie' ada menyatakan, bahawa mana-mana individu atau jemaah tertentu yang memperjuangkan Islam, jika tidak melalui proses ujian, maka ia masih belum boleh dikatakan berjaya dalam dakwahnya. Beberapa perkara yang berkaitan dengan ujian 1. Bahawa Allah SWT menjadikan ujian sebagai sunnah-Nya, supaya Dia mengetahui di kalangan hamba-Nya yang jujur dan mana yang berdusta, mana yang benar-benar beriman dan mana yang munafik. Jika sekiranya semua perkara itu mudah dan penuh dengan kesenangan, nescaya semua orang akan mengaku bahawa dia adalah seorang yang jujur, benar dan beriman. Akan tetapi, Allah mengetahui orang-orang yang benar-benar jujur dan orang yang melaksanakan solat lima waktu. 2. Antara pelajaran yang dapat diambil daripada setiap ujian, iaitu membersihkan orang-orang yang komited dalam perjuangan mendaulatkan Islam, supaya Allah mengetahui siapa orang-orang yang menghina orang-orang soleh dengan pelbagai tindakan jahat, termasuk para da'ie, penuntut ilmu, para ulama dan para wali Allah. 3. Antara rahsia daripada ujian dan cubaan yang diturunkan Allah ke atas permukaan bumi ini, iaitu penghapusan pelbagai kesalahan dan dosa yang terdapat pada diri orang-orang pilihan, sehingga Allah akan gugurkannya hingga ke akar umbinya. 4. Bahawa agama Islam ini, meskipun sering diberitakan bahawa ia sudah menang dan berjaya, sebenarnya di tengah-tengah perjalanan, masih penuh pelbagai cabaran dan tentangan, cubaan dan konspirasi jahat yang merintang, sehingga seorang mukmin masih bimbang menghadapi pelbagai konspirasi busuk yang dilancarkan syaitan yang berupa manusia terkutuk dari setiap pintu, jendela dan setiap arah. 5. Kita mampu menyingkap pelbagai konspirasi jahat musuh-musuh Islam, hingga kita mengetahui bahawa konspirasi busuk mereka tidak terbatas pada satu dimensi sahaja, akan tetapi datang dari semua arah dan tempat, pembunuhan, penjara, pengusiran, pencemaran nama baik, pembohongan, tipudaya dan sebagainya. Akan tetapi semua itu akan berakhir dengan kegagalan. 6. Antara pelajaran yang dapat diambil daripada ujian yang ditimpakan, iaitu agar seorang hamba sentiasa berjuang dan bangkit daripada jurang kerendahan dan kehinaan, serta berjuang kembali dengan tenaga dan semangat baru dan mengembalikan aktivitinya setelah keluar daripada ujian ini dengan jayanya. 7. Hendaklah seorang hamba itu merendahkan diri, patuh, tunduk dan berlindung kepada Allah serta bermunajat kepada-Nya, kerana kemenangan hanya ada di tangan-Nya dan kemuliaan hanya wujud dengan merendah diri kepada-Nya. 8. Kejujuran dan keyakinan tauhid hanya kepada Allah SWT. Hal ini dapat diketahui oleh orang yang telah cuba menerapkan kalimah La ilah Ilallah, di mana kejujuran yang kukuh tidak akan nampak kecuali saat hamba itu mendapat ujian, maka itulah ucapan kalimah tauhid yang diungkapkan dengan penuh kejujuran dan keyakinan dari dalam hatinya. Justeru, tauhid ini akan dapat dilihat dengan jelas pada masa-masa berlakunya krisis, sebagaimana firman Allah SWT menerusi ayat 65 surah al-Ankabut yang bermaksud: "Maka apabila mereka menaiki kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-nya." - lanh |
Posted by Sebutir Permata Yang Berharga | Permalink | 2 comments
Labels: Nasihat